oleh

Asa di PT ASA

-Opini-131 views

PANANGNEWS.COM, Opini – Kehadiran perusahan tambang emas, PT Arafura Surya Alam (ASA), di Kecamatan Kotabunan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, secara umum dapat diproyeksi multi dampak. Ibarat bilah pedang, beroperasinya perusahan ini, bisa memberikan manfaat sekaligus ancaman mudarat bagi lingkungan dan masyarakat.

Polemik yang kini sedang hangat menyangkut harga pembebasan lahan. Tentang hal ini, perusahan harus mengetahui lebih dulu histori lokasi tambang emas di wilayah eksplorasi nya. Jauh sebelum kehadiran PT ASA, wilayah tambang Kotabunan sudah lebih dulu dikelola dan pernah menimbulkan konflik besar. Sejarah aksi brutal pembakaran mes PT Antam waktu itu, hingga kini masih dituturkan. Bahkan lebih jauh lagi, konflik di wilayah tambang emas Kotabunan sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Di lokasi itu, telah ada darah yang tercucur, keringat yang terkuras, dan yang tak pernah pudar adalah asa untuk memperbaiki kehidupan di tiap generasi.

Kita semua tentu tak mengharapkan konflik tersebut berlanjut ke era modern sekarang ini. Suara-suara yang digaungkan oleh Aliansi Pemerhati Masyarakat Lingkar Tambang menurut saya perlu disikapi serius. Mereka memahami bagaimana konflik ini bisa terjadi, antisipasinya serta solusi yang hendak tawarkan. Sangat benar jika ada dalih bahwa Panang, Benteng, Tungow, Ongkobu dan sekitarnya, adalah harga diri yang tak boleh dihargai semenah-menah.

Bagi saya, sepatutnya bagi PT ASA mengakomodir suara-suara itu. Mereka tak sekedar menuntut tetapi ingin meletakkan persoalan pada jalur penyelesaian yang semestinya, yakni musyawarah untuk mufakat. Musyawarah atau negosiasi merupakan hal lumrah dalam hukum jual-beli. Jika cocok, bisa langsung dilepas. Jika belum cocok maka musyawarah lagi. Simpel.

Selain itu, perusahan harus jeli melihat kondisi yang ada. Pintu komunikasi yang dibuka lebar oleh pemilik lahan seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin oleh pihak perusahan. Dicatat pula, bahwa peralihan pemilikan lahan ini secara langsung akan berdampak pada dua hal sekaligus: kehilangan harta dan pekerjaan. Maka -sekali lagi- negosiasi menjadi ‘fardhu’ untuk mendapatkan win win solution.

Selanjutnya, terlepas dari polemik harga pembebasan lahan, kita masih perlu bertanya-tanya. Adakah asa di PT ASA untuk daerah ini, khususnya di wilayah lingkar tambang? Mari kita bahas.

Hemat saya, PT ASA sejak beberapa tahun lalu telah memberikan banyak kontribusi bagi daerah. Baik di bidang pengembangan SDM (pendidikan), kesehatan, keagamaan, pengembangan bakat olah raga dan seni, dan lainnya. Secara terbuka, program dalam Corporate Social Responbility, kadung dirasakan manfaatnya.

Hal lain dan ini tak kalah penting lagi, keberadaan perusahan ini mampu memberi efek ekonomi bagi warga masyarakat. Mulai dari pemberdayaan potensi lokal dan perekrutan tenaga kerja. Semoga ini bisa terealisasi tatkala perusahan sudah mulai operasi.

Kita perlu menghitung, akan berapa banyak pengangguran atau buruh kasar yang bisa mendapatkan pekerjaan, jaminan keselamatan kerja serta gaji yang layak ketika perusahan mulai eksploitasi. Usaha rumah makan, kedai hingga jasa perhotelan yang biasanya sunyi (bahkan mungkin merugi) dapat income. Pendidikan anak-anak terbantukan, pelaku usaha mendapatkan bantuan dan pelatihan.
Selain itu, dampak kerusakan lingkungan akibat penambangan secara sporadis selama sekian dekade, secara bersamaan dapat di-recovery. Artinya, kelak ada pihak yang bertanggungjawab atas dampak pengelolaan tambang di wilayah ini.
Sebagai warga di lingkar tambang, saya berharap, semua ini tak sekedar menjadi asa untuk PT ASA, tapi misi yang terimplementasi nanti. Semoga.

Penulis: Chendry Mokoginta

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini